Genderang perang sebentar lagi akan dibunyikan, perang janji-janji yang tak pasti; perang memberi harapan demi harapan; perang akan kalimat demi rakyat, demi masyarakat, demi daerah jika nanti siapa yang terpilih akan diwujudkan; dan seribu satu kata janji lainnya akan terurai lebar dengan senyum dan wajah yang menyakinkan. Sudah tidak dapat dipungkiri lagi apa yang tak mungkin menjadi mungkin semuanya dituntut dengan kata “Menang.”
Pilkada suatu agenda daerah atau pesta rakyat daerah Kabupaten/Kota setiap lima tahun sekali dengan tujuan untuk memilih siapa pemimpin atau kepala daerah berserta wakilnya yang duduk dijajaran pemerintah daerah di Provinsi Kepualauan Bangka Belitung.
Baliho-baliho dengan berbagai jargon dan tampang manis sebentar lagi akan mulai digelar untuk menghiasi bebagai tempat strategis, wajah-wajah yang biasanya cemberut berubah bak model sampul majalah, sosialisasi diri telah mulai dilakukan, konstalasi politik mulai kian menghangat, di beberapa media lokal sudah memberitakan nama-nama serta pasanganya dan rakyatpun siap-siap untuk berpesta.
Namun sangat menarik bila calon pemimpin yang akan kita pilih sesuai keinginan dan ikut memahami serta mengerti akan kehendak masyarakat, untuk itu pemimpin yang ideal biasanya memang menarik perhatian dan oleh karenanya banyak orang yang berminat untuk mencari dan mendapatkannya. Memilih pemimpin ideal sudah didengungkan menjelang musim pilkada, seperti yang akan dijadwalkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Daerah Provinsi kepulauan Bangka Belitung secara serentak yang Insya Allah akan dilaksanakan bulan Juni 2010 mendatang. Masyarakat akan memilih pemimpin daerah untuk memimpin daerahnya selama 5 tahun. Kepimpinan adalah seni yang mengajarkan bahwa kedudukan itu adalah kepercayaan dan menjadi ibadah kepada Allah SWT serta sebagai suatu pelayanan kepada orang lain. Kedudukan bukan sebagai terompet yang dibunyikan hanya untuk kepentingan pribadi. Lebih jauh lagi George R. Terry merumuskan bahwa kepemimpinan itu adalah aktivitas untuk mempengaruhi orang-orang supaya diarahkan mencapai tujuan organisasi. Dalam arti yang luas kepemimpinan adalah kegiatan untuk mempengaruhi perilaku orang lain, atau seni mempengaruhi perilaku manusia baik perorangan maupun kelompok. Di sini kepemimpinan tidak harus dibatasi oleh aturan-aturan atau tata krama birokrasi. Kepemimpinan tidak harus diikat dalam suatu organisasi tertentu, melainkan kepemimpinan bisa terjadi di mana saja, asalkan seseorang menunjukkan kemampuannya mempengaruhi perilaku orang-orang lain ke arah tercapainya suatu tujuan tertentu. Seorang ulama dapat diikuti orang lain dan memiliki pengaruh yang besar terhadap orang-orang di daerahnya, tidak harus terlebih dahulu diikat oleh aturan-aturan atau ketentuan-ketentuan organisasi yang sering dinamakan birokrasi.
Pemimpin ideal jelas sangat berbeda dengan Bos. Pemimpin mengantarkan, membimbing, memberi semangat, sedangkan Bos cenderung hanya mendikte dan membentak. Pemimpin cepat mengerti, Bos cepat memberi penilaian. Pemimpin mendengar terlebih dahulu, Bos berbicara lebih dahulu. Pemimpin memancarkan dukungan, Bos menuntut penghormatan. Pemimpin menimbulkan rasa hormat, Bos menimbulkan rasa takut. Pemimpin bertanya apa yang diperlukan, Bos mengatakan apa yang diperlukan. Pemimpin mengatakan kita, Bos mengatakan saya. Pemimpin membangkitkan semangat orang lain, Bos menidurkan pandangan orang lain.
Di dalam Islam, kepimpinan itu biasa dikenal dengan istilah imarah, ri-asah, atau qiyadah, semuanya bermakna sama. Islam telah melekatkan persoalan kepimpinan ini atas diri umatnya sedemikian rupa sehingga tidak boleh ada satu perkarapun di mana di dalamnya melibatkan tiga orang, kecuali harus ada salah seorang di antara mereka yang menjadi pemimpinnya.
Rasulollah Muhammad SAW bersabda : " Tidak boleh bagi tiga orang berada di manapun di bumi ini, tanpa mengambil salah seorang di antara mereka sebagai amir atau pemimpin ".
Ini artinya, Islam telah mengajarkan berpolitik dalam perkara apapun dengan keharusan ada seorang pemimpin disetiap perkara dan kehidupan kaum muslim. Di dalam kehidupan keluarga ada kepala keluarga (amir al-usrah), di dalam shalat berjamaah ada imamnya, di dalam perjalanan ada pemimpin perjalanan (amir as-safar), di dalam kafilah haji ada pemimpinnya (Amir al-hajj), di dalam pasukan ada komandannya (amir al-jaisy), dan lain-lain termasuk di dalamnya adalah kepala negara, yang di dalam sistem pemerintahan islam dikenal dengan sebutan Khalifah atau Imam al-A'dham. Khalifah adalah pemimpin umum bagi seluruh kaum muslim di dunia untuk menegakkan hukum-hukum syariat Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia ( www.Al-Islam.or.id ).
Sebentar lagi, lebih kurang 4 kabupaten di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung akan menyelenggarakan pilkada secara serentak, pesta suksesi lima tahunan kembali digelar, hiruk pikuk partai politik dan para kandidat sudah mulai terasa, sedangkan di beberapa media local pada waktu yang lalu mendekati pemilu kada (Pemilihan Umum Kepala Daerah) mendatang begitu banyak nama yang muncul ke permukaan, baik dari kalangan politisi, birokrat, ataupun professional.
Banyak hal yang perlu dilihat masyarakat sebelum menentukan pilihan, ibarat sebuah jamuan makan prasmanan, segala jenis makanan tersaji di atas meja, terserah bagaimana kita memilih makanan tersebut, apakah kita akan memilih makanan yang hanya sekedar memancing selera dan mengenyangkan perut semata tanpa memperhatikan apakah makanan tersebut akan menimbulkan penyakit atau tidak di kemudian hari.
Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, dimana daerah-daerah kabupaten yang akan menyelenggarakan pilkada di 4 (empat) daerah, yaitu Kabupaten Bangka Barat, Kabupaten Bangka Tengah, Kabupaten Bangka Selatan dan Kabupaten Belitung Timur yang mempunyai berbagai sumberdaya alam sangat besar tentulah harus memiliki seorang pemimpin ideal, dan mampu mewujudkan cita-cita masyarakat dan rakyatnya. Mulai dari sekarang daerah-daerah yang akan melaksanakan pemilu kada sedang mencari jejak sosok pemimpin. Namun timbul suatu pertanyaan jejak sosok pemimpin ideal yang bagaimanakah yang mampu memikul beban berat itu? Namun apakah mudah menemukan sosok pemimpin ideal itu? Dan kalaupun bisa sudah adakah orangnya saat ini? Insya Allah! sosok ini akan hadir, jika masyarakat lebih dekat mengenal siapa calon-calon yang akan tampil kedepan.
1. Sosok pemimpin ideal bagaimanakah yang mampu memikul beban berat?
Pemimpin ideal yang dimaksud setidaknya memiliki beberapa kriteria berikut. Pertama, dia merupakan seorang sosok yang mempunyai jiwa kepemimpinan/leadership yang telah teruji paling tidak dia telah berpengalaman menjadi pemimpin didalam komunitasnya dan mampu membawa kemajuan dibawah kepemimpinannya. Kedua, dia merupakan sosok yang peka dan peduli, baik terhadap isu-isu yang berkembang, maupun fakta-fakta yang ada dilapangan. Ketiga, haruslah dipimpin oleh sosok yang berfikir jauh kedepan, namun ia juga pandai mengambil pelajaran dari sejarah dan mampu menorehkan sejarah. Keempat, pemimpin yang ideal haruslah merupakan sosok yang pandai bersosialisasi, berdiplomasi, dan juga berbirokrasi.
2. Mudahkah menemukan sosok pemimpin ideal?
Mencari pemimpin itu sulit, peluangnya juga tidak selalu ada. Jadi, untuk mencari pemimpin yang ideal, memang yang bukan saja memiliki keilmuan, tapi juga legitimasi. Kita semua menginginkan munculnya pemimpin yang berwawasan, berkomitmen tinggi, punya kompetensi serta memiliki keberpihakan kepada umat, Hanya saja mengapa sosok yang diidamkan, belum juga mengemuka. Jika kita berbicara tentang umat berarti jumlah umat Islam yang besar, serta didukung parpol maupun Ormas Islam, mestinya akan lahir pemimpin Islami yang mampu menyelamatkan daerahnya dari berbagai macam krisis (krisis multidemensi).
3. Sudah adakah orangnya saat ini?
Bagi masyarakat Kepulauan Provinsi Bangka Belitung, dimana daerah-daerahnya yang memiliki segala potensi untuk kemajuan dan kejayaan, memiliki pemimpin yang ideal adalah sebuah keharusan. Agar potensi yang dimiliki oleh daerah ini tidak dimanfaatkan untuk fihak yang tidak berkepentingan.
Menurut Shodiq Ramadhan dalam situsnya suara islam, ketereria pemimpin yang ideal, harus memenuhi setidaknya lima kriteria pemimpin muslim, Pertama, memenuhi syarat-syarat menurut syariat Islam, yaitu Muslim, laki-laki, balig, berakal, adil/tidak fasik (konsisten dalam menjalankan aturan Islam), merdeka, dan mampu melaksanakan amanat kepemimpinan. Kedua, menjadikan kekuasaan daerah ini independen/mandiri, yaitu hanya bersandar kepada umat Islam. Seorang penguasa Muslim harus mampu melepaskan daerahnya dari cengkeraman dan dominasi orang kafir baik dalam bidang sosial, politik, ekonomi, hukum, dan budaya. Ketiga, menjadikan keamanan umat Islam di daerah ini adalah keamanan Islam, bukan keamanan non Islam. Keempat, segera menerapkan Islam secara serentak dan menyeluruh serta segera mengemban dakwah Islam. Kelima, mencegah terjadinya disintegrasi dan menyatukan wilayah-wilayah umat Islam yang telah tercerai berai.
Keempat syarat dan ke lima kreteria di atas sebenarnya bukanlah salah satu syarat mutlak yang harus diujikan dalam pemilihan pemimpin ideal. Namun, dengan terpenuhinya keempat syarat dan lima kreteria tersebut dalam sosok seorang pemimpin, akan mampu menjadikannya sebagai pemimpin ideal yang dapat mewujudkan visi dari yang dipimpinnya. Sebab, yang sampai kepada kekuasaan bukan sekadar kaum Muslim, melainkan Islam itu sendiri yang diemban oleh pemimpin tersebut.
Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, merupakan daerah yang majemuk dan plural, bahkan ada yang menyebutnya sebagai daerah penghasilan Timah & Lada. Oleh karena itu, pemimpin di Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung jelas harus melepaskan kepentingan-kepentingan pribadi atau kelompoknya, dia harus menjadi sosok atau figure seorang pemimpin yang masyarakatnya terdiri dari beragam suku, agama ataupun latar belakang lainnya. Selain itu dia juga harus sosok yang tegas dan bersih dari praktik KKN .
Menyitir beberapa pendapat di media lokal pada waktu yang lalu, saat ini figure yang dibutuhkan sebagai pimpinan daerah adalah orang yang tidak menyalahgunakan kekuasaannya selama menjabat dalam jabatan apa saja untuk memperkaya diri sendiri dari keuangan Negara. Sebelum menjabat pada jabatan tertentu figure tersebut memiliki apa, setelah menjabat memiliki apa, berapa dan bagaimana. Jika perubahan akibat penyalahgunaan kekuasaan atau korupsi maka rakyat sudah bisa memilih untuk tidak menjatuhkan pilihan pada figure tersebut.
Jadi, dalam konteks masyarakat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, pemimpin yang ideal adalah figure yang tidak sekedar memiliki syahwat kekuasaan, melainkan figure yang mempunyai wawasan yang luas, agamis, bersih dari KKN, mengerti akan nilai dan budaya, berani bertindak tegas, sekaligus mencintai dan dicintai rakyat, tidak melupakan sejarah, serta didukung oleh sebuah tim yang professional dan memiliki kemampuan manajemen yang mumpuni.
Semuanya bergantung pada umat, apakah mereka memilih pemimpin yang tetap melanggengkan sistem demokrasi-sekular dengan pemimpin yang gagal ataukah sistem Islam dengan pemimpin yang meneladani kepemimpinan Rasulullah. Saatnya umat memunculkan dan memilih pemimpin yang sesuai dengan ke empat syarat dan lima kritera di atas, untuk kejayaan daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung umumnya dan Daerah Bangka Selatan pada khususnnya dan juga umat Islam. Wallâhu a'lam.
------------------------------------------------------------ Toboali, Medeo Desember 2009 ----------
Tidak ada komentar:
Posting Komentar