Sabtu, 29 Januari 2011

Keraguan Balon Kepala Daerah



Dari Abu Muhammad Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib ra, cucu dan
kesayangan Rasulullah SAW, ia berkata,
”Aku menghafal pesan Rasulullah SAW yang berbunyi
‘Tinggalkan perkara yang meragukanmu dan ambillah perkara yang tidak meragukanmu”
(HR Nasai dan Tirmidzi. Imam Tirmidzi berkata,”Hadits hasan shahih.”)


Hadits ini termasuk dalam apa yang disebut para ulama sebagai ‘jawami’ul kalim’ yaitu hadits-hadits yang lafadz-nya pendek namun memiliki arti dan makna yang sangat dalam dan luas sehingga menjadi landasan nilai dan moral dalam menyikapi berbagai persoalan. Satu prinsip penting yang dipesankan baginda Nabi SAW melalui hadits ini adalah meninggalkan sikap keragu-raguan dan memilih hal-hal yang pasti dan meyakinkan. Ini adalah sebuah prinsip yang jika diterapkan secara konsisten dalam berbagai sisi kehidupan akan memberikan rasa keyakinan dan ketentraman jiwa baik bagi diri kita maupun lawan politik, karena segala sesuatu berjalan di atas sikap kejelasan dan bukan keragu-raguan.
Tulisan ini merupakan catatan buat salah seorang Balon Kepala Daerah yang saat ini masih ragu dan bimbang  untuk mencari Balon pendamping sebagai wakil kepala daerah dalam mengikuti Pemilu Kada tahun 2010 di Kabupaten Bangka Selatan. Simpang siur berita di media masa lokal, warung kopi, di bus-bus kota antar daerah dan di sudut-sudut persimpangan menceritakan siapa pendamping  yang cocok.  Sosialisasi dan konstalisasi antar partai politik semakin gencar untuk membuat nama-nama pasangannya.
Menarik untuk diperhatikan bagaimana pernyataan Balon kepala daerah ketika memberikan  suatu pesan tertulis didalam media massa lokal beberapa bulan yang  lalu, hingga masyarakat dapat memaknai bahwa selama menjabat sebagai nomor dua beliau memang di duakan atau sebagai ban serep. Ada pihak yang memaknainya sebagai pernyataan apologetik yang sarat nuansa politis. Pihak lainnya menilai, pernyataan itu sebagai ungkapan jujur dari seorang Balon kepala daerah kepada masyarakat dalam menanggapi berbagai tudingan yang selama ini dialamatkan kepada dirinya. Kalangan lawan politik selama ini menganggap dirinya yang terkesan lamban dan hati-hati untuk memutuskan dari tawaran dan ajakan untuk bersatu, bukanlah tindakan penakut atau peragu, melainkan model kearifan seorang Balon Kepala Daerah yang bijak. Sehingga ia akan mencari orang yang tepat dan bisa bekerjasama dalam menjalankan roda pemerintahan daerah Bangka Selatan dimasa mendatang. Keraguan itu terus berlanjut sampai sekarang, sehingga belum dapat  memilih siapa pendampingnya kelak.  Banyak nama-nama  yang telah ditawarkan, tetapi belum ada kata setuju atau tidak setuju, hingga pendampingnya pun masih menunggu bagaikan punguk merindukan bulan.  Melihat gejala fisikis ini penulis menilai Balon Kepala Daerah tersebut memiliki suatu prinsip. Prinsip ini juga menjadi landasan sikap ‘wara’ atau kehati-hatian dan akan mengantarkan seseorang pada sikap taqwa. Meninggalkan yang meragukan disini berarti meninggalkan perkara-perkara yang masih belum jelas halal haramnya. Ketidakjelasan ini akhirnya menjadikan hati menjadi ragu, bimbang dan gelisah. Dalam kondisi semacam ini, Rasulullah memberikan tuntunan kepada kita untuk memilih jalan yang lebih selamat, yaitu meninggalkan hal-hal yang masih meragukan tadi.  Perlu dijadikan catatan bagi Balon Kepala Daerah bahwa keraguan lebih berkonotasi negatif karena berpotensi melahirkan sikap ketidakpastian, kebimbangan dan keraguan. Seolah-olah tidak punya arah dan visi yang jelas dan tegas. Sikap seperti ini membuat lawan politik penasaran dan tentu saja dampaknya tidak menguntungkan semua pihak, bukan saja masyarakat dan pemerintah, tetapi juga diri yang bersangkutan. Sedangkan kearifan lebih berkonotasi positif karena demi kemaslahatan umum, maka sebuah kebijakan betul-betul dipertimbangkan secara matang. Keputusan dan kebijakan pemerintah harus rasional dan tidak boleh emosional, tidak boleh grusa-grusu.
Menurut motto Mantan Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla; “Lebih cepat lebih baik”, namun bukan berarti hamtam kromo, tapi perlu berpikir yang realistis penuh pertimbangan yang tepat sehingga tidak menyebabkan bumerang yang akan menghantam. Ini berarti tidak terus menerus berlarut-larut hingga keresahan masyarakat menjadi gerah yang akhirnya kepercayaan yang dimiliki masyarakat tersebut akan berkurang  sehingga membahayakan dan berdampak  buruk atas keragu-raguan  apabila telah menguasai hati Balon kepala daerah.  Jika itu terjadi maka sikap yang diambil akan menjadi tidak jelas dan penuh keraguan, karena akan melahirkan kegamangan dan keragu-raguan dan membuat masyarakat menjadi pesimis dan sulit untuk menentukan langkah dan rencana-rencana selanjutnya hingga dapat mengurangi kepercayaan masyarakat kepada Balon Kepala Daerah.
Dalam kehidupan sehari-hari memang terkadang kita dihinggapi perasaan ragu dan bimbang, semua itu hal yang wajar dan manusiawi. Menurut penulis keraguan yang dimiliki oleh balon kepala daerah bukan karena belum siapnya sebagai orang nomor satu (BN 1), melainkan disebabkan beberapa faktor;
Pertama, kurang percaya diri.  Ini bisa terjadi dikarenakan sikap mental yang buruk, hingga harus diterapi agar kita memiliki keberanian untuk mengambil keputusan. Dengan dilandasi motivasi dan niat yang benar serta kesungguhan untuk berijtihad dalam mengambil pilihan terbaik, Allah akan memberkahi dan mencatat ijtihad kita sebagai dua kebaikan jika putusannya benar dan satu kebaikan jika ternyata putusannya salah. Solusinya adalah melengkapi diri kita dengan informasi, company profile siapa dan dari mana serta sampai sejauh mana Balon pendamping memahami peta politik dan pemerintah agar dapat bekerjasama. Selain itu melakukan tabayyun (check and recheck) kepada Balon pendamping tersebut agar suatu masalah dalam membuat visi misi menjadi jelas sehingga sikap yang harus diambil pun jelas dan tidak salah dalam mengambil keputusan untuk dijadikan patner dalam roda pemerintahan dimasa mendatang.
Kedua, kuatnya pengaruh orang atau opini lain yang berseberangan. Tidak salah untuk mendengarkan masukan banyak pihak, sebelum mengambil keputusan. Pastikan maksudnya agar keputusan yang diambil mendekati kesempurnaan dan meminimalisir konflik horizontal. Terkadang, menunggu masukan banyak pihak, bahkan dengan membentuk tim ini-itu, komentar lembaga ini-itu, pooling ini-itu; malah akan membuat masalah-masalah lain semakin ‘antri’ untuk dipecahkan. Masalah-masalah yang menumpuk akan berdampak gerak solusi lebih lambat dari gerak fakta yang terus berjalan. Bahkan menumpuknya masalah itu akan menimbulkan masalah baru. Bahkan sampai bermuara pada ketidakpuasan masyarakat karena sudah terlalu lama berada pada kondisi ketidakpastian. Solusinya adalah harus memiliki alat ukur baik material maupun moral, sejauh mana sebuah pendapat Balon pendamping agar dapat dibuktikan atau sebuah argumentasi Balon pendamping  dapat dipertanggungjawabkan (alat ukur material) dan oleh siapa pendapat dan opini itu disampaikan (apakah oleh orang memiliki kapasitas dan kapabilitas), serta motif dan situasi apa yang menjadi latar belakang (alat ukur moral). Dari sinilah Balon kepala daerah akan bisa menentukan sikap yang tepat siapa pendamping yang sesuai dengan keadaan, situasi dan kondisi politik yang ada di daerah Bangka Selatan.
Ketiga, belum terbentuknya tim sukses yang solid. Solusinya adalah bentuk tim sukses dengan struktur yang tepat dari berbagai bidang, misalnya bidang ekonomi, sosial, budaya dan hukum. Buat program untuk memasarkan produk apa yang harus dijual oleh  Sang Balon Kepala Daerah sehingga Balon wakil Kepala daerah harus jeli memilih keputusan yang paling sedikit menimbulkan kontra, atau memilih yang tingkat kerugiannya paling kecil. Dengan membentuk masyarakat yang tangguh dan amanah (al-qawiyy al-amin) dan gagasan yang jauh ke depan, jauh melampaui periode kehidupan anak manusia maka terbentuk kerjasama antara Balon Kepala dan Wakil Kepala Daeran dalam menggagas masyarakat seperti apa yang dibutuhkan dalam era milenium ketiga ini.
Jika Balon kepala daerah sudah mengetahui ketiga faktor tersebut di atas haruslah segera mencari solusi lain yaitu dengan mengambil dan melakukan langkah-langkah maksimal dengan penuh kesungguhan, baik secara pengetahuan ataupun secara moral, agar kita bisa menetapkan keputusan yang berkualitas dan dapat dipertanggungjawabkan.  Jika keraguan terus menyelimuti,  lebih baik kita serahkan pada Yang Maha Kuasa karena padanya tempat kita mengadu, lebih baik menyerah pada Allah dari pada menyerah pada mahluk Allah. Sebaliknya seorang yang takut kepada makhluk Allah (khauf) berani melanggar ketentuan Allah demi menyenangkan makhluk Allah. Dalam perspektif keagamaan, seorang Balon Kepala Daerah memang sebaiknya lebih mengedepankan rasa takut kepada Tuhan ketimbang rasa takut kepada makhluk Tuhan. Jangan dibalik, rasa takut kepada makhluk mengalahkan rasa takut kepada Tuhan. Nabi Muhammad SAW mengajarkan, kalau kita sedang shalat kemudian ragu akan bilangan rakaat yang sudah kita kerjakan: tiga atau empat, maka kita diperintahkan untuk meyakini rakaat ketiga karena hal itu lebih pasti. Kalaupun toh kemudian ternyata kita shalat lima rakaat hal itu tidak menjadi masalah. Rakaat kelima akan bernilai shadaqah dan pukulan bagi syetan yang telah membisikkan keragu-raguan.  
Namun Sang Balon Kepala Daerah tidak boleh lupa, bahwa tidak semua masalah punya waktu banyak untuk direnungkan lebih lama. Makanya harus berbekal tegas dan cepat dalam membuat keputusan di saat yang genting jangan terlalu terjebak pada benar-salahnya keputusan. Kadang pula di suatu saat pihak yang salah akan dimenangkan, karena ada grand design untuk menjebak dan menangkap pihak yang salah lainnya secara lebih luas. Balon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah memang perlu menatap (bervisi) ke depan. Boleh jadi masyarakat tidak tahu apa mau sang Balon Kepala Daerah. Mungkin, aroma ke daerahannya akan terasa beberapa tahun setelah dia tidak lagi memimpin. Itulah resiko seorang Balon Kepala Daerah. Terkadang keputusan yang tidak populer menimbulkan kecaman saat ini, tapi pujian di masa datang.
Selain itu pebanyaklah Solat Malam yaitu Solat Istiharoh untuk mendapatkan petunjuk dari Allah SWT agar dapat diberi pendamping yang cocok dalam menjalankan visi misi kedepan, satu tujuan dengan saling  memberi dan menerima (share and care) dalam kebersamaan untuk menjalankan roda pemerintahan yang lebih baik dimasa yang akan datang.
Ingat setiap diri Balon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah akan dimintai pertanggungjawaban pada apa yang dipimpinnya. Janganlah terlalu asyik menilai diri anda sebagai Balon Kepala dan Wakil Kepala Daerah itu sangat sosial, jika ternyata kita tidak mampu memimpin ke-iman-an diri kita sendiri. Jangan-jangan, tanpa disadari, selama ini kiat ‘dipimpin’ oleh hawa nafsu bin ambisi bin keserakahan belaka.
Selamat mencari calon pedamping agar Pemilu Kada tahun 2010 ini menjadi gerah............, dan gairah.



----------------------------------------------------------------- Toboali; Medeo Januari 2010 ----------






Tidak ada komentar:

Posting Komentar