Rabu, 13 Juli 2011

Meriview PR SBY

MERIVIEW PR SBY


Oleh ; Suhardi DS
Pemerhati Daerah


Rasulullah Saw telah memperingatkan:
"Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian hancur
karena orang-orang terhormat di kalangan mereka
dibiarkan saja ketika mencuri. Tapi, jika yang mencuri orang lemah
di antara mereka, berlakulah hukuman atas mereka.”
(HR. Bukhari).
Akhir-akhir pemberitaan mengenai keterpurukan pemerintahan Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang selanjutnya penulis tulis SBY (tak terlepas hormat penulis pada beliau Sebagai Presiden RI yang ke VI) ibarat video porno. Laris manis, murah meriah, disukai semua kalangan, dari politisi, profesional, praktisi, akademisi sampai dengan pemulung. Hampir tidak bosan-bosannya dunia pertelevisian, media masa, dunia maya (facebook, twitter, YM), tiap hari tiap waktu serta tiap detik memberitakannya.
Pekerjaan rumah SBY yang sampai saat ini belum terselesaikan dan masih mengambang, dari mulai kasus Bank Century, Nazarudin (Bendahara PD), Nunun Nurbaiti (terdakwa kasus cek perjalanan dalam pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia), dan juga sampai kasus-kasus SUAPUDIN (orang yang melakukan suap). Dari korupsi dan suap kelas teri hingga korupsi kelas kakap. Dari yang bersifat individualis sampai yang bersifat sistematis. baik yang terungkap ke permukaan maupun tidak, semuanya ini merupakan pekerjaan yang masih tertunda bagi pemerintah SBY.
Meriview dari kejadian di atas, mengenai kasus Bank Century, sampai saat ini menghilang dari peredaran, hingga dibentuk tim khusus oleh SBYpun tidak membuahkan hasil karena didalam Tim tersebut memiliki oknum bermasalah. Belum selesai masalah yang satu keluar lagi masalah Nunun Nurbaiti, dimana keluarganya (suaminya anggota DPRD)pun tidak tahu menahu menghilang entah dinegeri antah berantah mana hinggapnya, hingga tak terlacak oleh Kantor Duta besar RI seluruh negara. Anech! Tidak anech, karena sekarang di ikuti oleh saudaranya (beda keturunan), yaitu Muhammad Nazarudin seorang Bendahara Partai Demokrat, juga kabur dari negara Singapura, sampai Kantor Luar Negeri Singapura mengeluarkan statemen untuk menyakinkannya, menurut perkembangan berita terakhir saat ini keberadaan Nazarudin di negara Filifina (apa benar atau tidak?).
Waktu SBY diusung oleh Partai Demokrat pemilu presiden tahun 2004, beliau membawa slogan dalam kampanye politik, isu “bersama Kita Bisa” dan pada tahun 2009 “Lanjutkan”, yang seharusnya sudah dapat mengimplementasikan secara proporsional. Kenyataannya slogan “lanjutkan..... Korupsi, KKN, Suap dan Calo Anggaran,” saat ini yang baru dapat diimplementasikan, sehingga mewabah seperti penyakit Aids yang menjalar dari Pemerintah Pusat ke Pemerintahan Provinsi sampai pada Pemerintah Kabupaten/Kota. Ada Pepatah mengatakan “Guru kencing berdiri, Murid kencing berlari.” Sehingga menjadi latah dan menjadi contoh yang tidak baik diikuti oleh pemerintah Kabupaten/Kota, yang berasal dari Pemerintah Pusat sekarang ini.
Kepemimpinan yang dimiliki SBY merupakan ciri-ciri kepemimpinan populis. Pemimpin populis tidak berani mengambil risiko, bekerja menggunakan uang, kekuasaan, dan politik populis atau pencitraan lain. Semua dapat kita lihat dengan “sad face dan body language” yang dimiliki SBY ketika berpidato, hanya sebuah lakon pemimpin yang berkarakter populis sesuai dengan ciptaan lagu-lagu yang dibuatnya dengan irama melankolis. Sebenarnya bukan ini yang kita harapkan!
Saat ini bangsa Indonesia butuh pemimpin yang berkarakter Risk Taker, dimana pemimpin yang harus berani mengambil resiko dan menghadapi resiko dalam mengambil keputusan. Bukan penuh keraguan lalu berpikir panjang untuk menghasilkan keputusan, karena waktu berjalan tiada henti dan pekerjaan rumah untuk urusan negara akan bertumpuk. Sebuah resef yang diberikan Sun Zi kepada seorang pemimpin; Ketika seorang pemimpin dihadapkan pada masalah dan kesulitan, sikap dasarnya harus “tidak ada masalah yang tidak dapat di atasi”.
Nabi Muhammad SAW bersabda ; “Sesungguhnya perkara yang halal sudah jelas, dan perkara yang haram juga jelas, antara keduanya terdapat syubhat, barangsiapa meninggalkan hal yang syubhat sungguh ia telah menjaga kemuliaan diri dan agamanya, dan barangsiapa yang jatuh pada hal syubhat maka ia telah jatuh pada perbuatan haram…”
Syubhat dalam konteks ini senafas dengan makna keragu-raguan atau ketidakjelasan, dan hal-hal yang syubhat itu selayaknya dihindari dan dijauhi. Dalam hadits ini SBY dianjurkan untuk memiliki konsistensi sikap terhadap masalah-masalah yang terjadi saat ini.
Keberadaan Presiden SBY sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat di dalam roda power politik bagaikan makna tembangnya Ebiet G. Ade, yang merangkum nilai-nilai agama, sosial, budaya juga fenomena alam dan seolah-olah telah dibuat skenario untuk membentuk peran-peran yang afik, rapi, terarah dan teratur. Sehingga ada kesejukan untuk didengar, serta ada kemulusan untuk diraba juga kecantikan untuk dipandang, namun tidak sanggup untuk memberi jalan keluar dalam menuju kebenaran. SBY dapat dikatakan pemimpin yang terpuruk karena pembantu-pembantunya (menteri) banyak dibingkai oknum Partai yang tidak memiliki moral kebangsaan. Upaya pembentukan seribu Satgas dan Tim2 Khusus tidak akan bisa menyelesaikan masalah karena didalamnya ada mafia yang mengharapkan simbiosis mutualisma. Bukan berarti penulis tidak menghargai atas upaya-upaya yang dilakukan SBY, tetapi upaya itu semua hanya sebuah pembuktian pada masyarakat agar mendapat penilaian bahwa SBY tidak hanya diam tetapi juga bisa berbuat. Lemahnya sistem penegakan hukum, karena pejabat yang di dalamnya pun memiliki “tumpukan” masalah dan kurang optimalnya sistem kinerja Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) saat ini begitu “lemot” dibawah pimpinan yang adem kemayu dan berwajah sendu, yaitu Busyro Muqoddas. Semuanya ini tak terlepas dari jeratan power politik yang dibuat dalam sebuah sistem kepemerintahan SBY, hingga menjadi gumbukan sampah masalah. Ibarat sebuah irama lagu cukup (lengkap) sudah penderitaan SBY, karena rata-rata pembantu dan sub pembantu sudah masuk kedalam sarang mafia berdasi.
Sekarang kembali kepada SBY, mau dibawa kemana negara kita ini?, mau irama apa yang harus dialirkan negara ini? Mau lakon apa yang harus dibentuk tata pemerintahan negara kita Republik Indonesia ini? Yang kami harapkan sebagai rakyat Indonesia, sebagai seorang presiden SBY tidak hanya merasa tersinggung (emosi) atas mosi ketidak berdayaan dalam mengambil suatu keputusan. Kami mengharapkan dari SBY sebagai “Pemimpin Negara”, sesuai dengan amanat berupa nasehat dari almarhum KH. Zainudin MZ, sebelum beliau wafat yang disampaikannya kepada Taufikurrahman Ruqi mantan ketua KPK : “ Saya berharap agar presiden SBY mengakhiri jabatannya dengan “Husnul Khotimah”, jadi lakukan langkah-langkah pembenahan yang maksimal terhadap negeri ini (Republik Indonesia).
Rasulullah Saw telah memperingatkan:"Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian hancur karena orang-orang terhormat di kalangan mereka dibiarkan saja ketika mencuri. Tapi, jika yang mencuri orang lemah di antara mereka, berlakulah hukuman atas mereka.”(HR. Bukhari).
Hal ini diperkuat dalam hadits Nabi saw yang menjelaskan betapa orang yang makan, minum dan berpakaian dari hal-hal yang haram tidaklah akan dikabulkan doanya oleh Allah SWT. Padahal doa adalah media penting komunikasi langsung kita dengan Allah SWT, untuk menyampaikan segala harapan dan keinginan kita agar hidup ini berkah dan mendapatkan ridha-Nya.
Nah jika sudah demikian, apa yang harus diperbuat seorang “presiden”, yang kami anggap sebagai seorang “Good Father” untuk memanage anak-anaknya yang berbagai macam karakter kepada Ihdinashshiiroothol mustaqiim.........

---------------------------------Toboali, Medeo Awal Juli 2011-----------------------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar